Tuesday, December 31, 2013

The Assassin (Part 1, Scene 1)


“Tok tok tok”
Kayak ada yang ngetuk pintu.
Ah, mungkin hanya mimpi.

Sarah kembali meneruskan ‘sleeping beauty’nya. Namun, terdengar suara ketukan pintu yang lebih keras.

“TOK TOK TOK TOK TOK”
               
                Aduh, siapa sih?
                Ganggu orang tidur aja.
                Bukain gak ya?
                Males gue.

                Dengan malas, Sarah bangun dari tempat tidurnya dan berusaha membuka mata. Cahaya terang siang hari serta salju tipis terlihat dari jendela kamarnya. Segera Sarah ke kamar mandi dan mencuci mukanya.

                Ahh, segarnya!

                Setelah cuci muka, Sarah tergopoh-gopoh membukakan pitu bagi Tamu-Yang-Mengganggu-Tidur-Siang-nya. Siapa ya kira-kira? Batin Sarah.

                “Selamat siang, Miss Morlock?” sapa orang itu ketika Sarah membukakan pintu.


                Melihat Sarah yang terbengong, orang itu kemudian menjelaskan dengan aksen Australia-nya yang kental, “Saya David Goodman, wartawan dari Koran Daily News. Saya kemari karena ada hal yang harus ditanyakan dengan Miss Sarah Morlock. Apakah anda mempunyai waktu?”

                “Oh, tentu saja. Silahkan masuk.” Sarah mempersilahkan masuk dan membuatkan secangkir teh untuk tamu yang mengaku bernama David itu.

                “Begini,Miss, saya ingin bertanya mengenai salah satu teman anda yang bernama Yoshimura Hikada, apakah anda dekat dengannya?”

                “ Ya, saya cukup dekat dengannya. Ada masalah apa dengan Yoshimura?”

                “Tidak ada, Miss. Apakah anda tahu lokasi Yoshimura Hikada sekarang?”

                “Maaf, apa keperluan anda?” Sarah bertanya-tanya dengan tatapan menyelidik. Ditatapnya lelaki itu dari kepala sampai kaki. Terlalu rapi untuk seorang wartawan.

“Saya perlu mengetahui keberadaan Yoshimura Hikada untuk diwawancarai. Dan mungkin anda adalah satu-satunya orang yang mengetahui keberadaan Yoshimura Hikada.”

“Diwawancarai? Dalam hal apa?” Semua terasa buram bagi Sarah. Merasa bingung karena pacarnya akan diwawancarai.

“Erm, begini, Miss, bukankah dia seseorang yang cukup berprestasi di bidangnya? Lagipula saya membutuhkan seorang sejarahwan untuk diwawancarai mengenai hal jatuhnya Kota Konstantinopel oleh Turki secara mendalam.”

“Begitukah?”

“Tentu saja, Miss.”

“Sejujurnya,  Sir, saya sendiri tidak tahu keberadaannya saat ini. Dia menghilang selama beberapa hari ini. Dia bahkan bolos kuliah. Saya sempat bertanya kepada teman-temannya, namun tidak ada yang tahu.”

“Kapan terakhir anda melihat Yoshimura Hikada?”

“Sekitar 3 hari yang lalu.”

“Apakah anda sudah mencoba menghubunginya?”

“Tentu saja sudah. Saya bahkan datang ke rumah orang tuanya.”

“Sebenarnya, apa hubungan anda dengan Yoshimura Hikada?” Sarah merasa terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan itu.

“Maaf, tetapi itu hal pribadi. Sekarang, saya memohon permisi karena saya akan ada kuliah pukul 3 nanti, saya harus bersiap-siap. Anda bisa datang lain waktu.” 

“Kalau begitu, terima kasih atas waktunya, Miss Morlock. Maaf mengganggu. Selamat siang.”

Sarah mengantar pria itu sampai keluar rumah dan kembali ke dalam rumah dengan pikiran yang tak menentu. Apakah pria itu benar-benar wartawan?

No comments: